Jumat, 05 April 2019

laporan sel dan jaringan tumbuhan



Sel dan Jaringan Tumbuhan
Plant Cell and Tissue
Raissya Adinda
raissya.bio18@fkip.unsyiah.ac.id
Abstrak
Praktikum ini dilaksanakan pada tanggal 04 Oktober 2018 di Laboratorium Biologi FKIP Unsyiah Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui struktur dan bagian-bagain dari sel, dan jaringan tumbuhan tersebut. Metode yang digunakan silet, sel epidermis bawang merah, sel gabus ketela pohon, sel daun Hydrilla vercilata, sel daun Rhoe discolor, sel batang toge, dan kami juga menggunakan metode diskriptif. Dari praktikum yang telah dilakukan,dapat diketahui hasilnya bahwa sel tumbuhan memiliki ciri-ciri yang sangat spesifik, maupun dari faktor luar atau dari segi dalamnya, memiliki fungsi yang berbeda-beda. Kumpulan sekelompok sel membentuk jaringan. Sistem jaringan pada tumbuhan dikelompokkan menjadi sistem jaringan dermal (Epidermis), jaringan dasar (parenkim), jaringan penyokong, jaringan pengangkut,.
Kata Kunci : Sel, jaringan, epidermis, parenkim, penyokong, pengangut.
Abstract
               This practicum was held on October 4, 2018 at the Biology Laboratory FKIP Unsyiah Practicum to find out the structure and parts of these cells, and plant tissues. The methods are razor blade, red onion epidermis cells, cassava cork cells, Hydrilla vercilata leaf cells, Rhoe discolor leaf cells, stem stem cells, and we also use descriptive methods. From the practicum that has been done, it can be seen that plant cells have very specific characteristics, also from external or facet factors, which have different functions. Collection of a group of network-shaped cells. Tissue systems in plants are grouped into dermal (Epidermis) tissue systems, basic tissues (parenchyma), supporting tissues, transporting tissues.
Keywords: Cells, tissue, epidermis, parenchyma, support, aeration

Pendahuluan
            Untuk pertama kalinya dalam tahun 1663, Robert Hook mengamati sel lapisan gabus batang tumbuhan dengan menggunakan mikroskop yang sangat sederhana. Lapisan gabus tersebut sebenarnya sel tumbuhan yang telah mati dengan hanya menyisakan dinding selnya saja. Hook mendapatkan ruangan-ruangan kosong yang dibatasi lapisan tebal, maka ia menamkan struktur ruang kosong tersebut cell (bahasa latin) atau kytos (bahasa yunani) yang berarti ruang kosong. Saat itulah sebenarnya orang pertama kali melihat sel yang 4 abad kemudian telah berkembang dalam konsep yang lebih luas (Subowo, 2015, p. 480-481).
            Tumbuhan mampu melakukan pertumbuhan intrermediet karena mereka memiliki jaringan yang terus menerus bersifat enbrionik, disebut meristem. Ada dua tipe utama meristem: meristem apical dan meristem lateral. Meristem apikal terletak diujung akar dan tunas. Didalam kuncup ksilaris tunas menyediakan sel-sel rtambahan yang memungkinkan tumbuhan untuk tumbuh memanjang, proses yang dikenal sebagi pertumbuhan primer. Tumbuhan berjkayu mengalami penambahan lingkar batang dan akar yang tidak lagi tumbuh memanjang. Pertumbuhan yang menebal ini, sebagai peryumbuhan sekunder, disebabkan oleh aktivitas meristem lateral yang disebut cambium vaskuler (Reece, 2008, p. 321).
            Kelompok sel tumbuhan tertentu membentuk suatu kelompok sel yang memiliki struktur dan fungsi yang sama dan disebut jaringan. Jaringan pada tumbuhan berasal dari pembelahan sel embrional yang berdiferensiasi menjadi bermacam-macam bentuk yang memiliki fungsi khusus. Berdasarkan aktivitas pembelahan selm selama fase pertumbuhan dan perkembangan sel atau jaringan tumbuhan, maka jenis jaringan pada tumbuhan dibagi menjadi dua, yaitu jaringan meristem dan jaringan dewasa (Dalimunte, 2015, p. 2)
Sel epidermis berbentuk  segi lima, segi enam, memanjang, dan bahkan ada yang tidak beraturan. Kedudukan sel epidermis tidak beraturan satu dengan yang epidermis ini ditemukan inti yang terletak di tengah dan ada yang terletak di tepi sel. Sel epidermis merupakan sel hidup, mempunyai protoplas, sitoplasma biasanya hanya berupa selaput tipis yang melekat pada dinding sel,tetapi protoplasnya tidak dapat teramati. Sel epidermis ini juga mempunyai kloroplas pada sel penutupnya (Rumondor, 2011, p. 14).
Stomata merupakan modifikasi jaringan epidermis yang terspesialisasi menjadi sebuah organ berperan dalam mengatur keluar masuknya udara serta air pada daun. Pengaturan udara dan air dilakukan oleh sepasang sel penjaga yang memiliki pori-pori diantara dua sel tersebut. Ukuran pori-pori diatur dengan mekanisme perubahan bentuk dari selpenjaga tersebut dan selalu aktifbekerja, kecuali pada saat tumbuhan mengalami dehidrasi, stomata daun bisa terdapat pada keduapermukaan maupun salah satu permukaan saja, namun yang paling umum adalahpada permukaan bawah. Daun dorsiventral, stomata paling banyak padabagian epidermis bawah. Daun yang mengapung stomata terbatas padaepidermis atas saja, sedangkan pada daun tenggelam tidak mempunyai stomata (Retno, 2015, p. 28).

Metode/ Cara Kerja
Waktu dan Tempat
Pratikum ini dilakukan di Laboratorium Pendidikan Biologi FKIP Unsyiahpadahari kamis,04 Oktober 2018 pukul 14.00- 16.00 WIB.

Target/ Subjek/ Populasi/ Sampel        
Alat dan bahan yang digunakan adalah mikroskop, gelas objek, deck glass, pipet tetes, silet, gelas beacker, akuades, sel epidermis bawang (Allium cepa), sel gabus ketela pohon (Manihot esculenta), sel daun Hydrillavercillata, seldaun Rhoediscolor, sel batang toge(Flammulinavelutipes).

Prosedur Penelitan
Langkah pertama yaitu menyiapkan semua alat dan bahan yang akan di praktikumkan. Seperti Mikroskop dengan pembesaran 10 x10, gelas objek, kaca objek, pipet tetes, gelas tutup, silet, ,aquades, sel epidermis bawang (Allium cepa), sel gabus ketela pohon (Manihot esculenta), sel daun Hydrillavercillata, sel daun Rhoe discolor, sel batang toge(Flammulinavelutipes). Kemudian dilanjutkan dengan langkah-langkah pengerjaan atau pengaplkasianya. Pada praktikum kali ini kita akan membahas atau melakukan 5 percobaan, yaitu padar,batang, dan Daun. yang pertama dengan cara melakukan penyayatan membujur pada sel epidermis bawang merah(Alium Cepa), kemudian letakkan di atas kaca objek  dan teteskan sedikit aquades kemudian tutup dengan gelas objek, kemudian amati di bawah mikroskop menggunakan pembesaran 10 x 10  nanti akan terlihat struktur dari sel epidermis tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan pengamatan sel gabus pada batang ketela pohon (Manihot esculenta) Yaitu di sayat secara melintang setipis-tipisnya kemudian letakkan pada kaca objek dan teteskan akuades dan tutup dengan gelas objek dan amati dengan mikroskop dengan pembesaran 10 x 40, dan nanti akan terlihat struktur-struktur penyusun sel gabus batang ketela pohon. Setelah itu dilanjutkan dengan pengamatan pada sel  daun Hydrilla vercillata ), prosedur yang digunakan sama dengan percobaan sebelumnya yaitu dengan cara menyayat daunnya setipis-tipis nya supaya mendapatkan hasil yang sempurna lalu letakkan pada kaca objek dan teteskan dengan akuades  lalu tutup dengan gelas objek dan amati dengan mikroskop menggunakan pembesaran 10 x10. Setelah prcobaan itu selesai  dilanjutkan dengan percobaan sel daun Rhoe discolor yaitu yang  pertama  sayat  daun  dengan melintang kemudian letakkan di atas kaca objek dan ditetesi dengan akuades dan tutup menggunakan gelas objek,, lalu amati di bawah mikroskop dengan pembesaran 10 x 10,. Dan dilanjutkan dengan percobaan  batang dikotil yaitu batang toge(Flammulinavelutipes) dengan sayatan melintang  dan diletakkan di atas kaca objek dan ditetesi dengan akuades lalu tutup dengan gelas objek dan amati dengan mikroskop menggunaan pembesaran10 x 10.
Akhir percobaan kita akan mendapatkan sebuah hasil berupa gambar yang lengkp dengan penyusun-penyususnya.
Teknik Analisis Data
Adapun metode yang dilakukan pada pengamatan ini adalah dengan metode diskriptif, dan menjelaskan secara rinci.foto dan gambar hasil pengamatan. Foto merupakan hasil dari pengamatan, dan gambar sel bawang sel gabus ketela pohon dan lain-lain yang didapat langsung pada tumbuhan tersebut didapatkan ketika mengamati langsung di laboratorium biologi FKIP unsyiah, dan deskriptif berupa pembahasan serta hasil pengamatan.

Hasil dan Pembahasan
Pada pratikum ini kami mengamati bahwa sel dan jaringan pada tanaman bawang merah, ketela pohon, Hydrilla vercilata, sel daun Rhoe discolor, sel batang toge . Pada  umum sel tersususn dari protoplasma. Protoplasma adalah semua bagian sel yang dibungkus membran. Sedangkan sitoplasma adalah bagian dari protoplasma yang mencangkup cairan sel, organel sel, sitoskeleton, dan zat ergastik yang berada diluar inti. cairan sitoplasma merupakan cairan kental yang lebh kurang transparan dalam cahaya tampak, komponen utamanya adalah air (85%-90%) Hal ini dapat diamati dengan gerakan benda-benda sitoplasma seperti plastid.Protoplasma lebih diartikan sebagai keseluruhan isi sel, yang terdiri atas sitoplasma yang di dalam sitoplasma terdapat organel. Nukleus dipandang sebagai komponen protoplas secara tersendiri, bagian non protoplasma adalah vakoula yang di dalam terdapat cairan vakoula dan zat ergastik (Susilo, 2015, p. 139).
 jaringan pada tumbuhan dibedakan menjadi dua macam, yaitu: Jaringan primer, jaringan yang berasal dari titik tumbuh primer (Prokambium sama dengan meristem primer). Contoh jaringan primer misalnya epidermis, korteks, xilem primer, floem primer, kambium dan empulur. Jaringan sekunder, jaringan yang terbentuk akibat aktivitas titik tumbuh sekunder (meristem sekunder). Titik tumbuh sekunder meliputi: kambium vasis ke arah luar membentuk floem sekunder dan ke arah dalam membentuk xilem sekunde (Mulyono, 2009, p. 620).
Untuk mengetahui lebih jelas tentang  hal tersebut, perhatikan gambar dari hasil praktikum yang diamati.

Gambar1. Sel Epidermis Bawang Merah (Alium Cepa)
Sumber: Dokumentasi Pribadi
            Dari hasil pengamatan kami ternyata sel epidermis bawang merah termasuk ke dalam sel hidup karena terdiri dari inti sel dan sitoplasma sehingga terjadinya proses kehidupan.Organel sel yang tampak yaitu dinding sel, sitoplasma, inti sel.Bentuk sel epidermis bawang terlihat seperti segi enam , ada juga seperti balok miring, dan bewarna merah keungu-unguan. Hal ini karena terdapat plastid yang mengandung klorofil (Murnah, 2009, p.151).

Gambar 2. Sel Gabus batang ketela pohon (Manihot esculenta)
Sumber: Dokumentasi Pribadi
Setelah diamati ternyata sel gabus adalah sel mati Karena selnya kosong tidak terdapat sitoplasma . Kami hanya melihat keberadaan dinding sel. Sel Gabus bewarna hitam, dan tidak mengandung plastid didalamnya (Peluealu, 2017, p. 69).

Gambar 3.Sel daun Hydrillavercillata
Sumber: Dokumentasi Pribadi
            Dari pengamatan kami pada daun tersebut terlihat pergerakan kloroplas mengelilingi searah jarum jam. Organel yang tampak yaitu dinding sel, inti sel, kloroplas,sitoplasma dan vakuola. Kloroplas mengandung klorofil sehingga sel bewarna hijau. (Bukhari, 2008, p. 8).
Gambar 3. Sel daun Rhoediscolor
Sumber: Dokumentasi Pribadi
Sel daun Rhoediscolor yang kami amati terdiri dari dinding sel, sitoplasma, inti sel, vakuola, dan stomata.

Gambar 4.Sel Batang Toge (Flammulinavelutipes)
Ternyata dari pengamatan kami batang toge termasuk kedalam tanaman dikotil . batang toge tersusun  dari sel epidermis, sel kolenkim, berkas pengangkut terdiri dari xylem dan floem, jari jari empulur dengan empulur ditengahnya (Bukhari, 2008, p. 5).

Simpulan dan Saran
Simpulan
            Sel adalah unit structural dan fungsional pada tumbuhan. Suatu sel dikatakan hidup apabila didalamnya terdapat inti sel, dan sitoplasma. Didalam sitoplasma inilah berbagai proses hidup terjadi. Suatu sel dikatakan mati apabila sel itu hanya ada dinding sel, dan tidak terdapat sitoplasma sehingga terlihat seperti ruang kosong. Jaringan adalah kumpulan beberapa sel membentuk fungsi tertentu. Jaringan dibagi menjadi 2, yaitu jaringan meristem yang masih aktif membelah dan jaringan dewasa yang tidak aktif membelah. Jaringan dewasa terdiri dari Jaringan epidermis, pembuluh yaitu xylem dan floem, penyokong yaitu kolenkim dan sklerenkim, dan jaringan dasar yaitu parenkim. Jaringan epidermis mengalami modifikasi menjadi stomata.

Saran
            Supaya dalam praktikum kita mendapatkan hasil pengamatan yang baik kita harus fokus, dan dalam melakukan penyayatan, usahakan dapat menyayat dengan tipis supaya lebih mudah ketika di amati dengan mikroskop. Dan sebaik nya menggunakan tumbuhan yang lebih muda agar lebih mudah di sayat dan di amati dengan mikroskop, baik akar, batang maupun daun.
Daftar Pustaka
Buchary, dan Karjadi A.K. 2008. Pengaruh Komposisi Media Dasar Penambahan BAP, dan Piklonam terhadap Induksi Tunas Bawang Merah. Jurnal Biologi, 3(1): 1-9.
Campbell, Neil A dan Jane B. Reece. (2008). Biologi Edisi Kedelapan Jilid 2. Jakarta: Erlangga
Dalimunte, Dkk. 2015. Morfologi Perakaran Tumbuhan Monokotil dan Tumbuhan Dikotil, hlm: 1-10.
Mulyono, Daryoko. 2009. ”Proses Reaksi Pembangkit Pada Sel “. Jurnal Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir Batang, 1(5): 619-620.
Murnah, dan Waryanti. 2009. Uji Ekstrak Bawang Bombay Terhadap Anti Bakteri Gram Negatif dengan Metode Difusi Cakram, Jurnal Sains dan Matematik, 17(3): 151-158.
Peluealu. 2017. Struktur Sel Daun Beberapa Suku Euphorbiaceae. Jurnal Mipa Unsrat Online, 1(2): 69.

Retno, Dkk. 2015. Identifikasi Tipe Stomata Pada Daun Tumbuhan Xerofit, Hidrofit, dan Mesofit. Jurnal Floera,  2(2): 28-32.
Rumondor, Dkk. 2011. Struktrur Sel Epidermis dan Stomata Daun beberapa Tumbuhan Suku Orchidaea. Jurnal MIPA Universitas Sam Ratulagi Manado, 1(1): 13-19.
Subowo. (2015). Biologi Sel Edisi 7. Jakarta: Erlangga.
Susilo, Eko Hadi. 2015.  Identifikasi Konstan Bentuk Sel Daun Untuk Pengukuran Laras Daun Metode Panjang Kali Lebar Pada Tanaman Hortikultur di Tanah Gambut. Jurnal Anterior, 14(2): 139.















































Tidak ada komentar:

Posting Komentar