Sel
dan Jaringan Tumbuhan
Plant Cell and Tissue
Raissya
Adinda
raissya.bio18@fkip.unsyiah.ac.id
Abstrak
Praktikum ini
dilaksanakan pada tanggal 04 Oktober 2018 di Laboratorium Biologi FKIP Unsyiah Praktikum
ini bertujuan untuk mengetahui struktur dan bagian-bagain dari sel, dan
jaringan tumbuhan tersebut. Metode yang digunakan silet, sel epidermis bawang
merah, sel gabus ketela pohon, sel daun Hydrilla
vercilata, sel daun Rhoe discolor, sel
batang toge, dan kami juga menggunakan metode diskriptif. Dari praktikum yang
telah dilakukan,dapat diketahui hasilnya bahwa sel tumbuhan memiliki ciri-ciri
yang sangat spesifik, maupun dari faktor luar atau dari segi dalamnya, memiliki
fungsi yang berbeda-beda. Kumpulan sekelompok sel membentuk jaringan. Sistem
jaringan pada tumbuhan dikelompokkan menjadi sistem jaringan dermal
(Epidermis), jaringan dasar (parenkim), jaringan penyokong, jaringan
pengangkut,.
Kata Kunci : Sel, jaringan, epidermis, parenkim, penyokong, pengangut.
Kata Kunci : Sel, jaringan, epidermis, parenkim, penyokong, pengangut.
Abstract
This practicum was held on
October 4, 2018 at the Biology Laboratory FKIP Unsyiah Practicum to find out
the structure and parts of these cells, and plant tissues. The methods are
razor blade, red onion epidermis cells, cassava cork cells, Hydrilla vercilata
leaf cells, Rhoe discolor leaf cells, stem stem cells, and we also use
descriptive methods. From the practicum that has been done, it can be seen that
plant cells have very specific characteristics, also from external or facet
factors, which have different functions. Collection of a group of
network-shaped cells. Tissue systems in plants are grouped into dermal
(Epidermis) tissue systems, basic tissues (parenchyma), supporting tissues,
transporting tissues.
Keywords:
Cells, tissue, epidermis, parenchyma, support, aeration
Pendahuluan
Untuk pertama kalinya dalam tahun
1663, Robert Hook mengamati sel lapisan gabus batang tumbuhan dengan
menggunakan mikroskop yang sangat sederhana. Lapisan gabus tersebut sebenarnya
sel tumbuhan yang telah mati dengan hanya menyisakan dinding selnya saja. Hook
mendapatkan ruangan-ruangan kosong yang dibatasi lapisan tebal, maka ia
menamkan struktur ruang kosong tersebut cell
(bahasa latin) atau kytos (bahasa
yunani) yang berarti ruang kosong. Saat itulah sebenarnya orang pertama kali
melihat sel yang 4 abad kemudian telah berkembang dalam konsep yang lebih luas (Subowo,
2015, p. 480-481).
Tumbuhan mampu melakukan pertumbuhan
intrermediet karena mereka memiliki jaringan yang terus menerus bersifat
enbrionik, disebut meristem. Ada dua tipe utama meristem: meristem apical dan
meristem lateral. Meristem apikal terletak diujung akar dan tunas. Didalam
kuncup ksilaris tunas menyediakan sel-sel rtambahan yang memungkinkan tumbuhan
untuk tumbuh memanjang, proses yang dikenal sebagi pertumbuhan primer. Tumbuhan
berjkayu mengalami penambahan lingkar batang dan akar yang tidak lagi tumbuh
memanjang. Pertumbuhan yang menebal ini, sebagai peryumbuhan sekunder,
disebabkan oleh aktivitas meristem lateral yang disebut cambium vaskuler
(Reece, 2008, p. 321).
Kelompok sel tumbuhan tertentu
membentuk suatu kelompok sel yang memiliki struktur dan fungsi yang sama dan
disebut jaringan. Jaringan pada tumbuhan berasal dari pembelahan sel embrional
yang berdiferensiasi menjadi bermacam-macam bentuk yang memiliki fungsi khusus.
Berdasarkan aktivitas pembelahan selm selama fase pertumbuhan dan perkembangan
sel atau jaringan tumbuhan, maka jenis jaringan pada tumbuhan dibagi menjadi
dua, yaitu jaringan meristem dan jaringan dewasa (Dalimunte, 2015, p. 2)
Sel epidermis berbentuk segi lima, segi enam, memanjang, dan bahkan
ada yang tidak beraturan. Kedudukan sel epidermis tidak beraturan satu dengan yang
epidermis ini ditemukan inti yang terletak di tengah dan ada yang terletak di
tepi sel. Sel epidermis merupakan sel hidup, mempunyai protoplas, sitoplasma
biasanya hanya berupa selaput tipis yang melekat pada dinding sel,tetapi
protoplasnya tidak dapat teramati. Sel epidermis ini juga mempunyai kloroplas
pada sel penutupnya (Rumondor, 2011, p. 14).
Stomata merupakan modifikasi
jaringan epidermis yang terspesialisasi menjadi sebuah organ berperan dalam
mengatur keluar masuknya udara serta air pada daun. Pengaturan udara dan air
dilakukan oleh sepasang sel penjaga yang memiliki pori-pori diantara dua sel
tersebut. Ukuran pori-pori diatur dengan mekanisme perubahan bentuk dari selpenjaga
tersebut dan selalu aktifbekerja, kecuali pada saat tumbuhan mengalami
dehidrasi, stomata daun bisa terdapat pada keduapermukaan maupun salah satu
permukaan saja, namun yang paling umum adalahpada permukaan bawah. Daun
dorsiventral, stomata paling banyak padabagian epidermis bawah. Daun yang
mengapung stomata terbatas padaepidermis atas saja, sedangkan pada daun tenggelam
tidak mempunyai stomata (Retno, 2015, p. 28).
Metode/
Cara Kerja
Waktu dan Tempat
Pratikum
ini dilakukan di Laboratorium Pendidikan Biologi FKIP Unsyiahpadahari kamis,04
Oktober 2018 pukul 14.00- 16.00 WIB.
Target/ Subjek/ Populasi/ Sampel
Alat
dan bahan yang digunakan adalah mikroskop, gelas objek, deck glass, pipet
tetes, silet, gelas beacker, akuades, sel epidermis bawang (Allium cepa), sel gabus ketela pohon (Manihot esculenta), sel daun Hydrillavercillata,
seldaun Rhoediscolor, sel batang toge(Flammulinavelutipes).
Prosedur Penelitan
Langkah pertama yaitu menyiapkan semua alat dan bahan yang akan di
praktikumkan. Seperti Mikroskop dengan pembesaran 10 x10, gelas objek, kaca
objek, pipet tetes, gelas tutup, silet, ,aquades, sel epidermis bawang (Allium cepa), sel gabus ketela pohon (Manihot esculenta), sel daun Hydrillavercillata, sel daun Rhoe discolor, sel batang toge(Flammulinavelutipes). Kemudian
dilanjutkan dengan langkah-langkah pengerjaan atau pengaplkasianya. Pada
praktikum kali ini kita akan membahas atau melakukan 5 percobaan, yaitu padar,batang,
dan Daun. yang pertama dengan cara melakukan penyayatan membujur pada sel
epidermis bawang merah(Alium Cepa), kemudian
letakkan di atas kaca objek dan teteskan
sedikit aquades kemudian tutup dengan gelas objek, kemudian amati di bawah
mikroskop menggunakan pembesaran 10 x 10 nanti akan terlihat struktur dari sel
epidermis tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan pengamatan sel gabus pada
batang ketela pohon (Manihot esculenta) Yaitu di sayat
secara melintang setipis-tipisnya kemudian letakkan pada kaca objek dan
teteskan akuades dan tutup dengan gelas objek dan amati dengan mikroskop dengan
pembesaran 10 x 40, dan nanti akan terlihat struktur-struktur penyusun sel
gabus batang ketela pohon. Setelah itu dilanjutkan dengan pengamatan pada
sel daun Hydrilla vercillata ), prosedur
yang digunakan sama dengan percobaan sebelumnya yaitu dengan cara menyayat daunnya
setipis-tipis nya supaya mendapatkan hasil yang sempurna lalu letakkan pada
kaca objek dan teteskan dengan akuades lalu tutup dengan gelas objek dan amati dengan
mikroskop menggunakan pembesaran 10 x10. Setelah prcobaan itu selesai dilanjutkan dengan percobaan sel daun Rhoe
discolor yaitu yang pertama sayat daun
dengan melintang kemudian letakkan di
atas kaca objek dan ditetesi dengan akuades dan tutup menggunakan gelas objek,,
lalu amati di bawah mikroskop dengan pembesaran 10 x 10,. Dan dilanjutkan
dengan percobaan batang dikotil yaitu
batang toge(Flammulinavelutipes) dengan sayatan
melintang dan diletakkan di atas kaca
objek dan ditetesi dengan akuades lalu tutup dengan gelas objek dan amati
dengan mikroskop menggunaan pembesaran10 x 10.
Akhir percobaan kita akan mendapatkan sebuah hasil berupa gambar
yang lengkp dengan penyusun-penyususnya.
Teknik Analisis Data
Adapun
metode yang dilakukan pada pengamatan ini adalah dengan metode diskriptif, dan
menjelaskan secara rinci.foto dan gambar hasil pengamatan. Foto merupakan hasil
dari pengamatan, dan gambar sel bawang sel gabus ketela pohon dan lain-lain
yang didapat langsung pada tumbuhan tersebut didapatkan ketika mengamati langsung
di laboratorium biologi FKIP unsyiah, dan deskriptif berupa pembahasan serta
hasil pengamatan.
Hasil
dan Pembahasan
Pada
pratikum ini kami mengamati bahwa sel dan jaringan pada tanaman bawang merah,
ketela pohon, Hydrilla vercilata, sel
daun Rhoe discolor, sel batang toge .
Pada umum sel tersususn dari
protoplasma. Protoplasma adalah semua bagian sel yang dibungkus membran.
Sedangkan sitoplasma adalah bagian dari protoplasma yang mencangkup cairan sel,
organel sel, sitoskeleton, dan zat ergastik yang berada diluar inti. cairan
sitoplasma merupakan cairan kental yang lebh kurang transparan dalam cahaya
tampak, komponen utamanya adalah air (85%-90%) Hal ini dapat diamati dengan
gerakan benda-benda sitoplasma seperti plastid.Protoplasma lebih diartikan
sebagai keseluruhan isi sel, yang terdiri atas sitoplasma yang di dalam
sitoplasma terdapat organel. Nukleus dipandang sebagai komponen protoplas
secara tersendiri, bagian non protoplasma adalah vakoula yang di dalam terdapat
cairan vakoula dan zat ergastik (Susilo, 2015, p. 139).
jaringan pada tumbuhan dibedakan menjadi dua macam, yaitu: Jaringan
primer, jaringan yang berasal dari titik tumbuh primer (Prokambium sama
dengan meristem primer). Contoh jaringan primer misalnya epidermis,
korteks, xilem primer, floem primer, kambium dan empulur. Jaringan sekunder,
jaringan yang terbentuk akibat aktivitas titik tumbuh sekunder (meristem
sekunder). Titik tumbuh sekunder meliputi: kambium vasis ke arah luar membentuk
floem sekunder dan ke arah dalam membentuk xilem sekunde (Mulyono, 2009, p.
620).
Untuk mengetahui lebih jelas tentang hal tersebut, perhatikan gambar dari hasil
praktikum yang diamati.
Gambar1. Sel Epidermis Bawang Merah (Alium Cepa)
Sumber: Dokumentasi Pribadi
Dari
hasil pengamatan kami ternyata sel epidermis bawang merah termasuk ke dalam sel
hidup karena terdiri dari inti sel dan sitoplasma sehingga terjadinya proses
kehidupan.Organel sel yang tampak yaitu dinding sel, sitoplasma, inti
sel.Bentuk sel epidermis bawang terlihat seperti segi enam , ada juga seperti
balok miring, dan bewarna merah keungu-unguan. Hal ini karena terdapat plastid
yang mengandung klorofil (Murnah, 2009, p.151).
Gambar 2.
Sel Gabus batang ketela pohon (Manihot
esculenta)
Sumber: Dokumentasi Pribadi
Setelah
diamati ternyata sel gabus adalah sel mati Karena selnya kosong tidak terdapat
sitoplasma . Kami hanya melihat keberadaan dinding sel. Sel Gabus bewarna
hitam, dan tidak mengandung plastid didalamnya (Peluealu, 2017, p. 69).
Gambar 3.Sel
daun Hydrillavercillata
Sumber: Dokumentasi Pribadi
Dari pengamatan kami pada daun
tersebut terlihat pergerakan kloroplas mengelilingi searah jarum jam. Organel
yang tampak yaitu dinding sel, inti sel, kloroplas,sitoplasma dan vakuola.
Kloroplas mengandung klorofil sehingga sel bewarna hijau. (Bukhari, 2008, p.
8).
Gambar 3. Sel daun
Rhoediscolor
Sumber: Dokumentasi Pribadi
Sel
daun Rhoediscolor yang kami amati terdiri dari dinding sel, sitoplasma, inti
sel, vakuola, dan stomata.
Gambar 4.Sel
Batang Toge (Flammulinavelutipes)
Ternyata
dari pengamatan kami batang toge termasuk kedalam tanaman dikotil . batang toge
tersusun dari sel epidermis, sel
kolenkim, berkas pengangkut terdiri dari xylem dan floem, jari jari empulur
dengan empulur ditengahnya (Bukhari, 2008, p. 5).
Simpulan
dan Saran
Simpulan
Sel adalah unit structural dan
fungsional pada tumbuhan. Suatu sel dikatakan hidup apabila didalamnya terdapat
inti sel, dan sitoplasma. Didalam sitoplasma inilah berbagai proses hidup
terjadi. Suatu sel dikatakan mati apabila sel itu hanya ada dinding sel, dan
tidak terdapat sitoplasma sehingga terlihat seperti ruang kosong. Jaringan
adalah kumpulan beberapa sel membentuk fungsi tertentu. Jaringan dibagi menjadi
2, yaitu jaringan meristem yang masih aktif membelah dan jaringan dewasa yang
tidak aktif membelah. Jaringan dewasa terdiri dari Jaringan epidermis, pembuluh
yaitu xylem dan floem, penyokong yaitu kolenkim dan sklerenkim, dan jaringan
dasar yaitu parenkim. Jaringan epidermis mengalami modifikasi menjadi stomata.
Saran
Supaya dalam praktikum kita
mendapatkan hasil pengamatan yang baik kita harus fokus, dan dalam melakukan
penyayatan, usahakan dapat menyayat dengan tipis supaya lebih mudah ketika di
amati dengan mikroskop. Dan sebaik nya menggunakan tumbuhan yang lebih muda
agar lebih mudah di sayat dan di amati dengan mikroskop, baik akar, batang
maupun daun.
Daftar Pustaka
Buchary, dan Karjadi A.K. 2008. Pengaruh Komposisi Media Dasar
Penambahan BAP, dan Piklonam terhadap Induksi Tunas Bawang Merah. Jurnal Biologi, 3(1): 1-9.
Campbell, Neil A dan Jane B. Reece. (2008). Biologi Edisi Kedelapan Jilid 2. Jakarta: Erlangga
Dalimunte, Dkk. 2015. Morfologi Perakaran Tumbuhan Monokotil dan
Tumbuhan Dikotil, hlm: 1-10.
Mulyono, Daryoko. 2009.
”Proses Reaksi Pembangkit Pada Sel “. Jurnal
Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir Batang, 1(5): 619-620.
Murnah, dan Waryanti.
2009. Uji Ekstrak Bawang Bombay Terhadap Anti Bakteri Gram Negatif dengan
Metode Difusi Cakram, Jurnal Sains dan
Matematik, 17(3): 151-158.
Peluealu. 2017.
Struktur Sel Daun Beberapa Suku Euphorbiaceae. Jurnal Mipa Unsrat Online, 1(2): 69.
Retno, Dkk. 2015. Identifikasi Tipe Stomata Pada Daun Tumbuhan Xerofit,
Hidrofit, dan Mesofit. Jurnal Floera, 2(2): 28-32.
Rumondor, Dkk.
2011. Struktrur Sel Epidermis dan Stomata Daun beberapa Tumbuhan Suku
Orchidaea. Jurnal MIPA Universitas Sam
Ratulagi Manado, 1(1): 13-19.
Subowo. (2015). Biologi Sel
Edisi 7. Jakarta: Erlangga.
Susilo, Eko Hadi.
2015. Identifikasi Konstan Bentuk Sel
Daun Untuk Pengukuran Laras Daun Metode Panjang Kali Lebar Pada Tanaman
Hortikultur di Tanah Gambut. Jurnal
Anterior, 14(2): 139.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar